4 alasan i-phone tak sesukses di AS
04/03/2009 2 Comments
- customer behaviour. bagian besar konsumen high-end indonesia yang menggunakan smart-phone, membelinya karena alasan ‘gengsi’ dan peer effect. lihat saja penjualan nokia communicator paling hot di indonesia; terutama pejabat-pejabat dari tingkat kabag s/d eselon 1; dalam kasus ini blackberry memiliki potensi untuk menyaingi commuicator
- paid service. nilai i-phone terletak pada ekosistem aplikasi dan konten melalui i-store yang dijaga dengan ketat oleh apple sebagai ‘revenue generator’. saya rasa ini merupakan batu halangan terbesar bagi i-phone mencuri pangsa pasar yang besar; di sini pengguna yang mau membayar untuk aplikasi dan layanan konten bisa sangatlah tipis. lihatlah kinerja ipod dan i-touch atas mp3 player lain. kasarnya di sini,…. ‘kalau ada bajakannya kenapa beli yang resmi
- tanpa keypad. penggunaan ponsel (termasuk ponsel cerdas) di sini sebagian besar digunakan untuk menelpon dan sms. tengoklah pengguna communicator jika ber-sms apakah flipnya dibuka atau tidak? i-phone tanpa keypad? memang fenomena facebook membuat pasar akses data meroket di sini, tapi kalau posting kan lebih nyaman pakai keypad…ini menjelaskan juga kenapa blackberry mulai ngetrend juga di sini bersaing dengan communicator
- harga. dengan label harga ‘unbundled’ sekitar 6-7 akan bertarung dengan kelas e-90, blackberry series, experia, dll. paket bundled diperkirakan sekitar 3 juta dengan cicilan sekurangnya Rp. 500 rb/bulan selama 2 tahun, pasarnya diperkirakan adalah corporate…dan lagi-lagi di sini harus berhadapan dengan blackberry dan nokia (seri E). di jepang i-phone ‘dipermalukan’ yakni dijual dengan gratis (paket bundel), menurut
bukan berarti i-phone tidak akan mencetak hit di sini. i-phone akan sold well di indonesia, namun mungkin tidak se-fenomenal di AS…kita tunggu dan lihat saja setelah telkomsel meluncurkan paket i-phone
Advertisement
iPhone ga laku, soalnya belom dijual bebas!
itu saja. Kalo sudah terjual bebas, baru fair play namanya.
masalahnya apple nggak mau fair-play. mungkin ini strategi ‘milking’nya untuk menghisap potensi margin tinggi sebelum ke mass market yang lebih luas, atau mungkin juga selaras dengan strategi dasar apple untuk menggarap pasar dengan margin yang lebih tinggi (kasarnya nggak mau jadi produk ‘kacangan’ (?)